Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan


Bismillah … Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Perlu dipahami bahwa tidaklah semua orang yang bersaksi laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), wa anna Muhammadar Rosulullah (bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya) disebut sebagai seorang muslim. Orang munafik pun mengaku demikian, namun itu tidak cukup. Allah Ta’ala menyifati mereka,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisa’: 145). Seseorang bisa disebut bukan muslim jika ia melakukan pembatal keislaman semacam kesyirikan, kemunafikan dan mencaci maki diinul Islam.  Nah, sekarang saatnya kita meninjau golongan Rafidhah yang ma’ruf dengan Syi’ah, apakah mereka termasuk muslim?
Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya, “Kami sangat butuh penjelasan mengenai beberapa kelompok Syi’ah. Kami mohon bisa dijelaskan mengenai aqidah mereka?”
Jawaban beliau rahimahullah,
Perlu diketahui bahwa Syi’ah terdiri dari berbagai macam kelompok, tidak bisa kita menjabarkan satu per satu di waktu yang singkat ini.
Ringkasnya, di antara mereka ada yang kafir, yaitu yang menyembah ‘Ali (bin Abi Tholib) dan mereka menyembah ‘Ali. Ada juga di antara mereka yang menyembah Fatimah, Husain dan selainnya. Di antara kelompok Syi’ah ada yang berpendapat bahwa Jibril ‘alaihis salam telah berkhianat. Kata mereka, seharusnya kenabian diserahkan kepada ‘Ali dan bukan pada Muhammad. Ada juga kelompok yang disebut Imamiyyah atau dikenal dengan Rafidhah Itsna ‘Asyariyah, yaitu ‘ubad ‘Ali, di mana mereka berkata bahwa imam mereka lebih mulia dari para malaikat dan para nabi.
Syi’ah memiliki golongan yang banyak, ada yang kafir dan ada yang tidak kafir. Golongan yang kesesatannya tidak separah lainnya yaitu yang mengatakan bahwa ‘Ali lebih utama dari Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Keyakinan seperti ini jelas keliru dan telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan para sahabat). Akan tetapi, golongan ini tidaklah kafir. Intinya, kesesatan kelompok Syi’ah bertingkat-tingkat. Siapa saja yang ingin mengetahui secara jelas tentang mereka, silakan merujuk pada kalam para ulama semisal dalam kitab Al Khuthuth Al ‘Aridhoh karya Muhyiddin Al Khotib dan Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Buku lainnya lagi seperti Syi’ah was Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhohir dan berbagai kita lainnya yang amat banyak yang telah mengulas kesesatan dan kejelekan mereka. Semoga Allah memberikan kita keselamatan.
Golongan yang paling sesat dari mereka di antaranya adalah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah An Nashiriyyah, yang disebut Rafidhah. Mereka bisa disebut Rafidhah (artinya: menolak) karena mereka menolak Zaid bin ‘Ali ketika Zaid menolak berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar. Lantas Rafidhah menyelisihi dan menolak Zaid.
Jika di antara orang Syi’ah ada yang mengklaim dirinya sebagai muslim, maka mereka adalah muslim. Namun perlu dibuktikan klaim mereka. Siapa saja yang beribadah pada Allah semata (tidak berbuat syirik, pen), membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman pada wahyu yang diturunkan pada beliau, ia adalah muslim. Jika ia mengklaim dirinya muslim, namun ia menyembah Husain, menyembah Fatimah, menyembah Badawi, menyembah ‘Aidarus dan selainnya, maka jelas ia bukan muslim. Kita mohon pada Allah keselamatan.
Begitu pula jika di antara  mereka ada yang mencela Islam atau meninggalkan shalat, walau ia mengatakan bahwa ia muslim, hakekatnya ia bukan muslim. Atau di antara mereka ada yang mengolok-olok Islam, mengolok-olok ajaran shalat, zakat, puasa atau mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendustakan beliau, atau mengatakan bahwa beliau itu bodoh, atau menyatakan bahwa risalah Muhammad belumlah sempurna atau beliau tidak menyampaikan ajaran Islam dengan jelas, maka itu semua
menunjukkan kekufuran.
Nas-alullah al ‘aafiyah, kita mohon kepada Allah keselamatan.
[Diterjemahkan dari website resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/4170]
Alhamdulillahilladzi bin ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma innaa nas-aluka ‘ilman naafi’a. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA
Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H

sumber: www.rumaysho.com


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer




Khutbah Pertama:
 
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ:
اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تَقْوَاهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَةِ وَالغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هِيَ خَيْرُ زَادٍ يُبلِّغُ إِلَى رِضْوَانِ اللهِ.
Kaum Muslimin sekalian,
Dunia hanya sebentar saja, begitu singkat dan merupakan bencana. Sungguh merugi orang yang tertipu oleh fatamorgana dunia, mabuk oleh tegukan minumannya, tiba-tiba tertelan oleh bumi sebelum sempat bertobat. Tempat untuk berlomba, dan dunia adalah medan tempat berlomba. Tidak akan memenangkan dalam setiap kancah pacu kecuali kuda pilihan yang kencang larinya. Setiap orang akan menerima apa yang telah dipersembahkan untuk dirinya, kesalahan-kesalahannya akan merugikannya sebagaimana kashalihannya pun pasti menguntungkannya.
Kaum muslimin sekalian,
Kerajaan Arab Saudi adalah suatu negeri yang derajatnya menjadi tinggi karena agama. Karena syariat kokohlah pilar-pilarnya, berkat ketegasan pemimpinnya enyahlah musuh-musuhnya, berkat keberniannya kandaslah usaha mereka yang beseberangan dengannya. Siapapun yang menyerang negeri dua kota suci dengan berbagai tipu muslihat, niscaya Allah akan telungkupkan batang hidungnya dan akan kembalikan akibat buruk persekongkolannya kepada pelakunya.
Kaum muslimin,
Persatuan merupakan benteng pertahanan, dan perpecahan merupakan pangkal kebinasaan. Persatuan merupakan inti dari kebenaran, dan perpecahan adalah basis kehancuran. Cerai berai adalah tanda ketersungkuran dan faktor pemecut saling menjauh, yang menyebabkan kemamuran berbalik menjadi kehancuran, dan menjadikan keamanan menjadi hanya fatamorgana.
Walhasil perpecahan adalah pembantai dan pencukur habis, tidak ada orang yang berjalan yang lebih jahat dari yang berjalan untuk mengadu domba. Maka biang keladi dari segala keburukan adalah penyulut api adu domba.
Kaum muslimin,
Sungguh telah menyimpang dari barisan umat ini sebuah komplotan sesat, sekelompok kecil sempalan yang merupakan dari keturunan yang sesat. Tidak jelas arah tujuannya selain mengais-ngais percikan bunga api kekacauan dan pembangkangan, lalu mengobarkan semangat perpecahan, menghunus pedang fitnah dan jihad dengan cara-cara yang melawan hukum dan dengan beroposisi, akibat aqidah yang merupakan aqidah susupan, dan pemahaman yang cacat, dan pandangan yang sakit.
Pola pikir yang keliru telah menginspirasi mereka untuk menempuh jalur kesesatan dan jalan yang bercabang-cabang. Itulah sebabnya mereka mengkafirkan, menteror, menakut-nakuti, membunuh, melakukan peledakan, berkhianat dan menipu. Mereka tidak menahan diri dari mengganggu orang-orang kafir yang telah terikat perjanjian damai, demikian juga mereka mengganggu kaum muslimin. Mereka mencampakkan diri ke dalam tungku api bunuh diri dengan dalih gugur sebagai syuhada, dan menjerumuskan diri dalam lembah pemberontakan dengan dalih berjihad.
Kondisi mereka amburadul tanpa aturan, mereka mengikuti setiap suara yang menggonggong dan menapaki jejak setiap suara yang meringkik. Argumentasi yang rasional mereka tanggapi dengan kata-kata yang berbelit-belit, Kaidah yang benar mereka konter dengan kengawuran dan kesalahan, perkara-perkara yang jelas mereka lawan dengan syubhat-shubhat yang jatuh. Sehingga ini semua hanyalah menambah hati mereka semakin bimbang, bingung dan risau, mereka benar-benar kelewat batas (ekstrem). Siapapun yang membela mereka sama dengan membela kebatilan, dan siapapun yang mendukung mereka sama saja dengan mendukung penghancuran Islam.
Mereka bagaikan laron-laron yang menuju ke api, anak-anak muda yang masih bau kencur, pandir dan jahat. Mereka menyimpang dari jalur ulama salaf (para pendahulu yang baik) dan diteruskan oleh generasi penerus yang baik pula. Mereka tinggalkan ajaran yang diwariskan oleh umumnya para ulama kepada umumnya para ulama, diwariskan oleh jamaah kaum muslimin kepada jamaah sesudahnya.
Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi – bersabda :
مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً. وَمَنْ خَرَجَ مِنْ أمَّتِى عَلَي أُمَّتِيْ يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجَرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَيْ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِيْ لِذِيْ عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّيْ. رواه مسلم
“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan jama’ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Barangsiapa keluar dari umatku untuk memerangi umatku, dengan memenggal orang yang baik dan yang jahat tanpa mengecualikan orang mukmin dari umatku, dan tidak menepati janjinya terhadap orang yang telah terikat perjanjian, maka dia bukanlah dari golonganku”. (HR. Muslim).
Mereka benar-benar kelompok sesat, berhati dengki dan hasud. Kejahatan mereka terakhir kali yang brutal dan mengerikan adalah peledakan bom bunuh diri di Al-Ahsya dengan eksikutor tangan pengkhianat. Mereka bagaikan tetumbuhan ganas yang akan tercungkil, dan akar kebatilan tidak akan lama untuk tercabut. Kehancuran mereka senantiasa ternantikan, dan dengan kebulatan tekad pastilah mereka tertumpas.
Kaum muslimin,
Usia muda belia identik dengan kesucian dan keluguan. Anak yang masih muda belia umumnya kurang tanggap dan minim pengalaman. Maka ketika anak muda belia seperti itu dirangkul oleh orang yang diragukan loyalitasnya, akidahnya, kejujurannya dan agamanya, jadilah dia korban penipuan penjahat tanpa disadari, dicekokinya dengan kebatilan tanpa dimengerti, diracuninya tanpa diduga, direkrutnya untuk menyerang agamanya, negerinya, keluarganya dan kaum kerabatnya sendiri tanpa ia sadari.
Barangsiapa yang membiarkan anaknya berkelana di lembah binatang buas untuk bermain-main di tengah-tengah binatang buas yang kelaparan, berjalan dalam kegelapan dan menelusuri gurun pasir, maka ia telah menjualnya dan menelantarkannya serta membiarkannya menjadi rebutan kelompok penjahat dan menjadi target bagi kepentingan mereka yang busuk.
Barangsiapa yang membiarkan anak-anaknya tenggelam dalam pesta pora dan dalam dosa, bergelimang dalam arena fitnah, menerobos kerumunan orang banyak, membenamkan diri di tengah-tengah keramaian manusia, berteman dengan siapa saja yang mereka sukai tanpa ada pengawasan, bermalam di luar rumah tanpa dijaga, tinggal jauh tanpa pernah dipertanyakan, maka sungguh ia telah durhaka kepada mereka dan berbuat dzolim kepada mereka.
Tanda jasa yang pasti melekat adalah ketika anak-anak itu menjadi korban bisikan setan, korban ceramah para pembuat onar, tulisan kelompok ektremis pelaku kebatilan, fatwa kelompok Khawarij yang penuh kedengkian, diperalat oleh organisasi rahasia, oleh kelompok-kelompok teroris yang tukang mengkafirkan, serta hanyut dalam arus kepartaian yang menanamkan kebencian di hati para anak-anak muda kita terhadap para penguasa kita, ulama kita dan negeri kita.
Wahai para orang tua,
Waspadalah, jangan menganggap enteng, jangan sampai terlena dan lalai, membiarkan dan tidak peduli. Tanamkanlah dalam jiwa anak-anak kalian rasa cinta kepada agama dan negeri mereka. Didiklah mereka untuk loyal kepada pemerintah, aparat keamanan, para ulama dan para pemimpin mereka.
Semua itu sulit diwujudkan kecuali dengan memberikan rasa kasih sayang kepada mereka, mencintai mereka, memberikan pemberian dan berbuat baik kepada mereka, menyertai dan mendampingi mereka secara baik serta memberikan hak pendidikan dan perlindungan kepada mereka.
Kaum muslimin sekalian,
Khawarij adalah para pelaku maksiat kepada Allah dan RasulNya, mereka telah menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah. Dan khawarij ada dua kelompok, yang keduanya adalah dua tanduk syaitan, yaitu kelompok “Al-Qo’adah” (provokator namun tidak ikut terjun), dan “Al-khodam Al-Hafadah” (yaitu pembantu dan pelaksana/eksekutor). Maka khawarij “Provokator” kerjaannya adalah memperindah pemberontakan, mereka menyeru untuk memberontak terhadap penguasa, mereka membolehkan praktik bom bunuh diri, dan mereka menipu para pengebom bunuh diri dengan janji ampunan Allah dan masuk surga. Mereka memperindah fatwa-fatwa yang keji, untuk membawa sabuk-sabuk yang berisi bom (untuk bom bunuh diri), untuk menyetir mobil-mobil yang berisi bom, dan untuk meledakan diri sendiri di mesjid-mesjid dan tempat-tempat ibadah, serta di pasar-pasar dan lokasi-lokasi keramaian.
Dan khawarij pelaksana/eksekutor adalah orang-orang berusia muda dan bodoh, tugas mereka adalah melaksanakan rencana-rencana syaitan, mereka menyalakan api dengan potongan-potongan kayu.
Wahai sang pemuda yang gagah,
Jangan sampai engkau terpedaya dengan perkataan dan provokasi yang telah dihias dengan kedustaan dan kemilaunya kebatilan. Kalau seandainya orang yang menyerumu adalah seorang mujahid yang menginginkan kebaikan maka tentu ia akan segera untuk melakukan bom bunuh diri sebelum ia mengajakmu untuk praktik bom bunuh diri. Akan tetapi ia telah menggelincirkan dan menyesatkanmu, ia sendiri lebih memilih kesenangan, harta, dan tetap bisa hidup, dan ia memilihkan untukmu kematian, kebinasaan, dan kehancuran.
Maka bangunlah engkau dari kelalaianmu –wahai pemuda- kembalilah engkau dan tinggalkan kesesatan-kesesatanmu, kembalilah kepada jalan lurusmu, dan janganlah engkau menjadi bumerang (senjata makan tuan) bagi dirimu dan keluargamu.
Wahai engkau yang kabur dan terus keras kepala membangkang serta terus mengobarkan kezoliman dan kerusakan…, wahai engkau yang mengeluarkan kata-kata yang buruk untuk didengar, yang telah berkoar-koar dengan perkataan yang menjijikan pada tabi’at…, wahai engkau yang melepaskan tali ketaatan dan engkau mematahkan tongkat jama’ah (persatuan)…, wahai engkau yang telah diberi waktu, telah diberi kesempatan, telah diulur, ternyata tidaklah kesempatan waktu yang diberikan kepadamu kecuali engkau semakin menyimpang, tidaklah kelonggaran diberikan kepadamu kecuali engkau semakin murtad…berhentilah engkau, lihatlah dan kembalilah kepada kebenaran sebelum engkau dihukum sementara wajahmu terhina…engkau akan dihadirkan untuk di sidang dengan persidangan yang adil dalam kondisi rendahnya dirimu…
Bertaubatlah dan segera…sebelum menimpamu apa yang kau takutkan…jika engkau tidak memilih taubat maka tunggulah pedang yang memotong… 
 
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ؛ وَأَسْتَغْفُرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .
 
Khutbah Kedua:
 
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:

Kaum muslimin sekalian!
Penderitaan penduduk Madaya (Suria) yang dikepung dan diboikot oleh musuh-musuh agama dan sunnah, yaitu dengan konspirasi internasional yang kuat, merupakan bukti akan adanya hukum rimba yang berlaku di dunia saat ini. Penduduk yang dihinakan dengan senjata yang menakutkan mereka dan menyebabkan mereka kelaparan. Para wanita, bayi, dan anak-anak diselimuti oleh ketakutan, kelaparan, penyakit, dan kedinginan tanpa ada obat dan makanan, tanpa ada tempat tidur dan selimut. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk menghangatkan tubuh mereka di tengah dingin yang sangat menusuk.
Sesungguhnya kekuatan dunia internasional –dengan sikap diam dan bisunya mereka, serta ketidakpeduliannya, sementara mereka menyaksikan pemandangan-pemandangan yang begitu mengerikan dan kondisi yang menyakitakan- maka mereka dianggap ikut serta dalam kejahatan terorisme ini. Dan sesungguhnya negeri-negeri sunnah yang telah dihancurkan mesjid-mesjid dan gedung-gedung sekolahnya, telah dibantai orang-orang yang terbaik dan orang-orang besar padanya, serta diisolasi sehingga penduduknya mati kelaparan, maka akan terus menjadi bukti yang nyata dan pasti akan adanya konspirasi bersama untuk menghancurkan bangunan negeri-ngeri sunnah, pemerintahnya, dan rakyatnya. Serta menunjukan akan adanya konspirasi tersembunyi diantara musuh-musuh umat, dan juga menunjukan adanya politik memecah belah dan mengeksodus demi mengadakan perubahan!!
Kaum muslimin sekalian,
Bangkitlah demi menolang saudara-saudara kalian dengan apa yang kalian mampu, baik selimut, obat, dan makanan. Dan wajib bagi pemerintah negara-negara Arab dan Islam untuk tidak terus diam membisu kaku di hadapan proyek penghancuran kota Madaya dan pengisolasiannya. Wahai engkau yang boros dalam hartanya, yang berfoya-foya dalam perkara yang (meski) halal…, wahai kalian yang berbuat mubadzir, berlebih-lebihan dalam menghabiskan harta, menghabiskan harta pada perkara yang tidak bermanfaat…sungguh telah hilang kasih sayang dari hati kalian…, telah dicabut rasa belas kasih dari dada kalian…tidakkah kalian melihat apa yang menimpa saudara-saudara kalian?. Maka bertakwalah kepada Allah sebelum turun kepada kalian siksaanNya dan sebelum menimpa kalian hukumanNya… 
 
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ الشَامِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عباد الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ* وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ) [النحل:90-91]، فاذكروا اللهَ يذكرْكم، واشكُروه على نعمِه يزِدْكم، ولذِكْرُ اللهِ أكبرُ، واللهُ يعلمُ ما تصنعون.
 
Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syekh Shalah Bin Muhammad Al-Budair (Imam dan khotib Masjid Nabawi).
Penerjemah: Utsman Hatim dan Firanda Andirja
Artikel firanda.com

Sumber: www.KhotbahJumat.com



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَعَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ( دَخَلَ الْجَنَّةَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ، ودَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ) قَالُوا: وَكَيْفَ ذَلِكَ يا رَسُولَ اللهِ؟! قَالَ: ( مَرَّ رَجُلَانِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ لَا يُجَاوِزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبَ لَهُ شَيْئًا، فقَالُوا لِأَحَدِهِمَا : قَرِّبْ ، قَالَ: لَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ أُقَرِّبُ ، قَالُوا لَهُ : قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا، فَقَرَّبَ ذُبَابًا، فَخَلُّوا سَبِيلَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، وَقَالُوا لِلْآخَرِ: قَرِّبْ، فقَالَ: مَا كُنْتُ لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ شَيْئًا دُونَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَضَرَبُوا عُنُقَهُ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ) رَوَاهُ أَحْمَدُ.


“Ada seseorang yang masuk ke dalam surga karena seekor lalat, tetapi ada pula seseorang yang masuk ke dalam neraka karena seekor lalat.”
(Para shahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu (terjadi), wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ada dua orang yang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang tidak seorang pun boleh melewati berhala itu, kecuali setelah mengurbankan sesuatu kepada (berhala) itu. Mereka (kaum tersebut) berkata kepada salah seorang di antara keduanya, ‘Berqurbanlah.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mempunyai sesuatu apapun untuk kuqurbankan.”
Mereka berkata lagi kepadanya, ‘Berqurbanlah, meski hanya seekor lalat.’ Dia pun berqurban dengan seekor lalat maka mereka pun membiarkan dia berlalu. Oleh karena itulah, dia masuk ke dalam neraka. Kemudian, mereka berkata kepada seorang yang lain, ‘Berqurbanlah.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak akan pernah mengurbankan sesuatu apapun kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla,’ maka mereka pun memenggal lehernya. Oleh karena itulah, dia masuk surga.” (HR. Ahmad)
Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang bahaya dan kejelekan kesyirikan. Beliau pun bercerita kepada para shahabatnya, yang beliau memulai ceritanya dengan suatu permulaan yang menjadikan jiwa-jiwa merasakan keanehan dan memerhatikan cerita tersebut, yaitu, “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, tetapi ada pula yang masuk neraka karena seekor lalat,” yang (cerita) ini merupakan hal sepele yang telah menjadi sebab perkara yang membahayakan, dan menjadikan orang bertanya tentang rincian (cerita) itu.
Maka, di sini beliau merinci dengan berkata bahwa kedua orang tersebut -tampak bahwa keduanya berasal dari bani Israil- ingin melintasi suatu tempat yang, di pekarangan (tempat) itu, sebuah berhala diletakkan. Siapapun yang bermaksud melewati (tempat) itu diwajibkan menyembelih binatang sebagai bentuk taqarrub dan pengagungan kepada berhala tersebut.
Para penyembah berhala tadi meminta kepada kedua orang tadi untuk menjalankan aturan yang syirik itu. Salah seorang dari keduanya beralasan tidak memiliki sesuatu untuk diqurbankan maka mereka mau menerima qurban yang teringan sekalipun dari orang itu. Sebab, tujuan mereka adalah dicapainya kesepakatan atas kesyirikan tersebut. Sehingga, orang itu berqurban dengan seekor lalat untuk berhala tersebut, lalu mereka pun membiarkan orang itu melanjutkan perjalanan. Orang itupun dimasukkan ke dalam neraka karena perbuatannya karena ia telah melakukan kesyirikan tersebut serta menyetujui (menyepakati) mereka atas (kesyirikan tadi). Kemudian, mereka meminta kepada orang yang satunya agar (orang itu) bertaqarrub kepada berhala mereka. Orang itupun menolak dengan alasan bahwa hal itu terolong sebagai kesyirikan sehingga tidak akan mungkin ia kerjakan. Oleh karena itu, mereka membunuh orang tersebut sehingga orang tersebut dimasukkan ke dalam surga karena penolakannya terhadap kesyirikan.
Hadits ini menunjukkan bahwa menyembelih qurban tergolong sebagai ibadah, dan bahwa menyerahkan (qurban) kepada selain Allah tergolong sebagai kesyirikan.
Faedah Hadits
  1. Penjelasan tentang bahaya kesyirikan, meskipun pada sesuatu yang sepele.
  2. Bahwa kesyirikan mewajibkan pelakunya untuk masuk ke dalam neraka, sedangkan tauhid mewajibkan pelakunya untuk masuk ke dalam surga.
  3. Bahwa manusia kadang terjatuh ke dalam kesyirikan, sementara dia tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah kesyirikan yang mewajibkan untuk masuk ke dalam neraka.
  4. Peringatan terhadap dosa-dosa, meskipun (dosa) itu dianggap kecil.
  5. Bahwa orang (pertama) tersebut masuk ke dalam neraka berdasarkan suatu sebab yang tidak dia niatkan sejak awal, tetapi dia lakukan agar dapat lolos dari kejahatan penyembah berhala tersebut.
  6. Bahwa sesungguhnya seorang muslim, jika mengerjakan kesyirikan, batallah keislamannya dan akan masuk ke dalam neraka. (Demikianlah) sebab orang tersebut sebelumnya adalah muslim karena, kalau dia bukan seorang muslim, tentu tidak akan dikatakan, “Ada seseorang yang masuk ke dalam neraka karena seekor lalat.”
  7. Bahwa sesungguhnya yang dinilai adalah amalan hati, meskipun amalan anggota badannya kecil dan sedikit.
  8. Bahwa menyembelih adalah ibadah maka memalingkannya kepada selain Allah adalah syirik besar.
  9. Keutamaan tauhid dan besarnya buah yang dihasilkan oleh (tauhid).
  10. Keutamaan bersabar di atas kebenaran.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer





Alhamdulillah. Solawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad r beserta keluarganya dan para pengikutnya yang baik hingga hari Kiamat nanti. Amabakdu.
Para pembaca – yang semoga mendapat limpahan rahmat Allah – sesungguhnya sihir adalah sesuatu yang nyata hakikatnya. Allah menyebutkan hal tersebut dalam Al-Qur'an dan Rasulullah r juga menjelaskannya di dalam hadits yang sahih. Bahkan Rasulullah r pernah disihir oleh seorang yahudi. Oleh karena itu, pembahasan di seputar sihir dan perdukunan adalah pembahasan yang sangat penting. Selayaknya para tokoh agama memperingatkan umat tentang hakikat dan seluk - beluk sihir (dan perdukunan) tersebut karena bahaya yang ada di dalamnya dan ia bisa mengenai siapa saja.
Para ulama sejak zaman dahulu hingga sekarang telah banyak mengungkap hakikat sihir di dalam banyak karya tulis. Maka dari itu, kita akan mengangkat pembahasan tentangnya pada blog ini. Selamat membaca.

Sihir di dalam Alquran dan Hadits
Allah I berfirman :
وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (QS al – Falaq [113]:4)

Abu Muhammad al – Maqdisi rohimahullah berkata, “Kalau sihir tidak ada hakikatnya, niscaya Allah tidak akan memerintahkan agar memohon perlindungan kepada-Nya dari bahaya sihir.” ( Fathul-Majid hlm. 335 )
Demikian pula Rasulullah r sendiri pernah disihir oleh seorang yahudi yang bernama Labid bin A'sham. Peristiwa itu disebutkan di dalam sebuah hadits (yang artinya) : Sesungguhnya Nabi r disihir sehingga dikhayalkan pada beliau bahwa beliau melakukan sesuatu padahal tidak. Dan beliau r pada suatu hari berkata kepada Aisyah, “Telah datang kepadaku dua malaikat, salah satunya duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya di dekat kakiku. Salah satu malaikat berkata kepada yang lainnya, “Apa penyakit laki-laki (Rasulullah)?” Yang satunya menjawab, '(Dia) terkena sihir.' ' Siapa yang menyihirnya?' Satunya menjawab, 'Labid bin A'sham...'” ( HR al – Bukhari : 1451)1

Pengertian sihir
Sihir secara bahasa berarti ungkapan tentang suatu perkara yang disebabkan oleh sesuatu yang samar dan lembut. Sementara itu, menurut istilah, sihir terbagi menjadi dua makna :
  1. Buhul – buhul dan mantra-mantra, maksudnya adalah bacaan-bacaan dan mantra-mantra yang dijadikan perantara oleh tukang sihir untuk minta bantuan para setan dalam rangka memberi kemudaratan kepada orang yang disihir.
  2. Obat – obatan atau jamu-jamuan yang berpengaruh terhadap orang yang disihir baik secara fisik, mental, kemauan, dan kecondongannya sehingga orang yang disihir tersebut berpaling dan berubah (dari kebiasaannya). (Lihat al-Qaulul-Mufid oleh Syaikh Utsaimin 1/489.)

Status hukum sihir
Sihir merupakan perbuatan kufur yang diharamkan Allah. Allah berfirman (yang artinya):
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun seebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir. “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa menukarnya (Kitabullah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 102)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa perbuatan sihir merupakan kekafiran. Karena itu, para ulama telah sepakat tentang kufurnya perbuatan sihir2.

Haram mendatangi tukang sihir
Dari Abu Hurairah t bahwasanya Nabi r bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barang siapa mendatangi dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah kafir terhadap apa (Alquran) yang diturunkan kepada Muhammad.”(HR Ahmad no. 9171)

Di dalam hadits lainnya, beliau bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barang siapa mendatangi dukun lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka salatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR Muslim no. 2230)

Dari dua hadits di atas, para ulama menerangkan bahwa apabila mendatangi sihir tanpa membenarkanya (hanya bertanya) maka ini hukumnya dosa yang sangat besar dan salatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Sementara itu, mendatangi dan bertanya kepada mereka tentang sesuatu, kemudian membenarkan ucapan/berita yang mereka sampaikan, maka ini adalah tindakan kufur/kekafiran terhadap Allah. Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusyaikh berkata, “Orang yang membenarkan dukun dan tukang sihir, meyakini benarnya ucapan mereka), dan meridai hal tersebut, maka ini merupakan kekafiran.” (Fat hul-Majid hlm. 356)


Cara syar'i dalam menangkal dan mengobati sihirnya
Para pembaca yang budiman, setelah kita memahami hal di atas, perlu kita ketahui cara yang benar dalam mengobati sihir. Sebab, sesungguhnya mengobati sihir dengan sihir tidak diperbolehkan. Maka dari itu, di sini kami meringkas keterangan Syaikh Bin Baz di dalam Risalah fi Hukmis-Sihri wal-Kuhanati (buku tersebut sangat bagus kami menyarankan agar sidang pembaca membacanya, Pen. Beliau menerangkan bahwa mengobati sihir ada dua :
  1. Tindakan sebelum terjadi, yaitu usaha yang menjauhkan diri dari sihir sebelum terjadi. Di antara caranya adalah dengan membentengi diri dengan zikir-zikir yang disyariatkan, sebagai berikut:
  • Membaca Ayat Kursi setiap selesai salat lima waktu atau dibaca ketika akan tidur.
  • Membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas pada setiap selesai salat lima waktu, dan membaca ketiga surat tersebut sebanyak tiga kali pada pagi hari sesudah salat magrib dan ketika hendak tidur.
  • Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah pada permulaan malam (yaitu ayat 285-286)
2. Tindakan setelah terjadi; dengan dua cara:
  • Dengan ruqyah syar'iyah, membacakan doa-doa berdasarkan riwayat yang sahih, di antaranya ialah doa yang dibaca Malaikat Jibril ketika meruqyah Rasulullah r.

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ
“Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari semua hal yang mengganggumu dari kejelakan semua jiwa dan mata yang hasad Allah akan menyembuhkanmu. Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu.”

Dan bacaan-bacaan ruqyah lainnya.
  • Cara pengobatan lainnya, dan ini adalah cara yang paling tepat yaitu berupaya mengerahkan tenaga dan daya untuk mengetahui di mana tempat sihir terjadi, di atas gunung atau di tempat manapun ia berada, dan bila sudah diketahui tempatnya, diambil dan musnahkan sehingga lenyaplah sihir tersebut.
Itulah beberapa penjelasan tentang perkara-perkara yang dapat menjaga diri dari sihir dan usaha pengobatan atau cara penyembuhannya, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. (Diringkas dari Risalah fi Hukmis-Sihri wal-Kuhanah hlm. 5-8)

Abu Haitsam
_______________________
1 Ibnu Qayyim berkata, “Dan sekelompok manusia telah mengingkari hal ini (tersihinya Rasulullah). Mereka mengatakan 'ini tidak boleh menimpa diri rasul' bahkan mereka menganggap ini sebagai suatu kekurangan dan aib. Dan perkaranya tidak seperti yang mereka duga. Akan tetapi, sihir tersebut adalah dari jenis perkara (penyakit) yang berpengaruh terhadap diri Rasulullah. Hal ini termasuk dari jenis-jenis penyakit yang menimpa beliau sebagaimana beliau juga tertipa racu, dimana tidak ada perbedaan antara pengaruh sihir dengan racun.”(Zadul-Ma'ad 4/124)

2 Sebagaimana dinukil Ibnu Abil Izzi di dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 505


Sumber: Buletin ALFURQON Tahun 10 Volume 9 No 1




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Sesungguhnya akidah bahwa Allah di atas ‘Arsy adalah akidah yang hak (benar). Dasarnya berupa dalil-dalil Alquran, Hadis, ijmak ulama, akal, dan fitrah sangat banyak dan sangatlah gamblang. Cukuplah bagi kita merenungi ucapan berikut:
قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ : فِي الْقُرْآنِ أَلْفُ دَلِيْلٍ أَوْ أَزْيَدُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ
“Sebagian tokoh senior mazhab al-Syafi‘i mengatakan, ‘Dalam Alquran terdapat seribu dalil atau lebih yang menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas makhluk dan Allah di atas hamba-Nya.’”[1]
Semoga Allah merahmati al-Imam Ibn Abil-‘Izz al-Hanafi yang telah mengatakan—setelah menyebutkan 18 segi dalil—, “Dan jenis-jenis dalil-dalil ini, seandainya dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil. Oleh karena itu, para penentang masalah ini hendaknya menjawab dalil-dalil ini. Akan tetapi, sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya.”[2]
Sesungguhnya akidah ini merupakan syiar Ahlusunah wal Jamaah sejak dahulu hingga sekarang. Ucapan-ucapan para ulama salaf tentang hal ini banyak sekali, tak bisa hitung jumlahnya.[3] Namun, pada kesempatan kali ini, kami akan memfokuskan pada ulama-ulama mazhab al-Syafi‘iyyah seperti al-Imam al-Syafi‘i, al-Muzani, al-Baihaqi, al-Sabuni, al-Bagawi, Abu al-Hasan al-Asy‘ari, dan sebagainya dari para tokoh mazhab al-Syafi‘iyyah, karena kami melihat suatu keajaiban pada zaman sekarang, di mana banyak orang-orang yang menisbahkan diri kepada mazhab al-Syafi‘i sekarang justru menganut paham “Allah di mana-mana” bahkan menganggap sesat orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah di atas ‘Arsy-Nya.
Aduhai, apalah artinya Anda menisbahkan diri kepada para ulama tersebut kalau memang kenyataannya Anda tidak mengikuti akidah mereka?! Sungguh benar ucapan penyair:
وَكُلٌّ يَدَّعِيْ وَصْلًا بِلَيْلَى             وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا
Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila
Tetapi Laila tidak mengakuinya[4]
Berikut ini beberapa ucapan para tokoh ulama al-Syafi‘iyyah, yang secara tegas mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy yang sesuai dengan kemuliaan-Nya.[5] Semoga bisa dijadikan renungan bagi kita semuanya:

1.    Al-Imam al-Syafi‘i (150–204 H)

Al-Imam al-Syafi‘i meyakini ketinggian Allah di atas ‘Arsy-Nya. Hal ini ditegaskan oleh para ulama al-Syafi‘iyyah sendiri. Akidah al-Imam al-Syafi‘i dalam masalah ini juga diaminkan oleh para tokoh mazhab al-Syafi‘i yang paling tahu tentang mazhab al-Syafi‘i. Al-Imam al-Baihaqi—salah seorang ulama pembela mazhab al-Syafi‘i—berkata setelah membawakan dalil-dalil yang banyak tentang masalah ini, “Asar-asar salaf tentang hal ini sangat banyak sekali. Dan inilah mazhab dan keyakinan al-Imam al-Syafi‘i.”[6]
Demikian juga ditegaskan oleh al-Hafiz Ibn Hajar—salah seorang ulama al-Syafi‘iyyah—, beliau berkata, “Dan al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Ahmad ibn Abil-Hawari … dan dari jalan Abu Bakr al-Daba’i ia berkata, ‘Mazhab Ahlusunah terhadap firman Allah “Dan ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy…” adalah tanpa ditanya bagaimananya. Dan asar-asar dari salaf tentang hal ini banyak sekali. Dan ini adalah jalan al-Imam al-Syafi‘i dan Ahmad ibn Hanbal.’”[7]
Al-Imam al-Syafi‘i berdalil dengan hadis Mu‘awiyah ibn Hakam Radhiallahu ‘Anhu dalam beberapa kitabnya.[8]
وَأَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ لَا يَعْتِقَ إِلَّا باَلِغَةً مُؤْمِنَةً ، فَإِنْ كَانَتْ أَعْجَمِيَّةً فَوَصَفَتِ الْإِسْلَامَ أَجْزَأَتْهُ ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِلَالٍ ابْنِ أُسَامَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ أَنَّهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ n فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ جَارِيَةً لِيْ كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ فَجِئْتُهَا وَفَقَدْتُ شَاةً مِنَ الْغَنَمِ فَسَأَلْتُهَا عَنْهَا فَقَالَتْ : أَكَلَهَا الذِّئْبُ فَأَسَفْتُ عَلَيْهَا وَكنُتْ ُمِنْ بَنِيْ آدَمَ فَلَطَمْتُ وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ أَفَأَعْتِقُهَا ؟ فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ n (أَيْنَ اللهُ ؟) فَقَالَتْ : فِي السَّمَاءِ فَقَالَ (مَنْ أَنَا ؟) فَقَالَتْ : أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ ، قَالَ : (فَأَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ).
Saya lebih suka agar tidak memerdekakan budak kecuali budak yang sudah balig dan mukminah. Seandainya dia non-Arab kemudian bersifat Islam maka sudah mencukupi. Mengabarkan kepada kami Malik dari Hilal ibn Usamah dari ‘Atha’ ibn Yasar dari ‘Umar ibn Hakam[9] berkata, “… Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai penggembala kambing di Gunung Uhud dan al-Jawwaniyyah (tempat dekat Gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?’ Jawab beliau, ‘Bawalah budak itu padaku.’ Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, ‘Di mana Allah?’ Jawab budak tersebut, ‘Di atas langit.’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi, ‘Siapa saya?’ Jawab budak tersebut, ‘Engkau adalah Rasulullah.’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah.’”[10]
Al-Imam al-Syafi‘i membawakan hadis dalam kitab-kitabnya tanpa mengkritik isi kandungannya. Maka hal itu menunjukkan bahwa beliau berhujah dengan hadis ini. Al-Imam al-Zahabi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Dalam hadis ini terdapat dua masalah:
Pertama: Disyariatkannya pertanyaan seorang muslim ‘di mana Allah’[11]
Kedua: Jawaban orang yang ditanya ‘di atas langit’. Barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini, maka berarti dia mengingkari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”[12]
Al-Imam al-Syafi‘i Rahimahullahu Ta’ala juga mengatakan:
الْقَوْلُ فِي السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَرَأَيْتُ أَصْحَابَنَا عَلَيْهَا أَهْلَ الْحَدِيْثِ الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ وَأَخَذْتُ عَنْهُمْ مِثْلَ سُفْيَانَ وَمَالِكٍ وَغَيْرِهِمَا الإِقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَيَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ.
“Pendapat dalam sunah (akidah) yang saya yakini dan diyakini oleh kawan-kawan saya ahli hadis yang saya bertemu dengan mereka dan belajar kepada mereka seperti Sufyan, Malik, dan selain keduanya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi secara benar kecuali hanya Allah saja dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dan bahwa Allah di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya dekat dengan para hamba-Nya sekehendak Dia dan Dia turun ke langit dunia sekehendak-Nya.”[13]
Riwayat dari al-Imam al-Syafi‘i ini sangat tegas menyatakan akan Allah berada di atas langit. Asar ini ternyata juga diriwayatkan dari banyak jalur oleh para ulama. Al-Barzanji (wafat 1103 H)—salah seorang ulama mazhab al-Syafi‘iyyah—menukil ucapan al-Imam al-Syafi‘i di atas dari jalur Yunus ibn ‘Abdil-A‘la, Ibn Hisyam al-Baladi, Abu Saur, Abu Syu‘aib, Harmalah, al-Rabi‘ ibn Sulaiman, dan al-Muzanni.[14]
Demikianlah ketegasan al-Imam al-Syafi‘i. Lantas adakah yang mengambil pelajaran darinya?![15]

2.    Al-Imam al-Muzanni (175–264 H), murid senior al-Imam al-Syafi‘i.

Beliau mengatakan:
[عَالٍ] عَلَى عَرْشِهِ ، وَهُوَ دَانٍ بِعِلْمِهِ مِنْ خَلْقِهِ ، أَحَاطَ عِلْمُهُ بِالأُمُوْرِ …
“Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, Dia (Allah) dekat pada hamba-Nya dengan ilmu-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu…”[16]
عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ ، مَوْجُوْدٌ وَلَيْسَ بِمَعْدُوْمٍ وَلَا بِمَفْقُوْدٍ
“Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya. Allah itu ada, bukannya tidak ada dan hilang.”[17]

3.    Al-Imam ‘Usman ibn Sa‘id al-Darimi (200–280 H)

Beliau berkata:
قَدِ اتَّفَقَتِ الْكَلِمَةُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ، أَنَّ اللهَ بِكَمَالِهِ فَوْقَ عَرْشِهِ ، فَوْقَ سَمَوَاتِهِ
“Telah bersepakat kalimat kaum muslimin dan kafirin bahwa Allah di atas langit.”[18]

4.    Al-Imam Ibn Khuzaimah (223–311 H)

Beliau berkata:
فَتِلْكَ الْأَخْبَارُ كُلُّهَا دَالَّةٌ عَلَى أَنَّ الْخَالِقَ الْبَارِيَ فَوْقَ سَبْعِ سَمَوَاتِهِ ، لَا عَلَى مَا زَعَمَتِ الٍْمُعَطِّلَةُ : أَنَّ مَعْبُوْدَهُمْ هُوَ مَعَهُمْ فِي مَنَازِلِهِمْ.
“Maka hadis-hadis ini seluruhnya menunjukkan bahwa Pencipta berada di atas langit yang tujuh. Hal ini tidak sebagaimana yang dipersangkakan oleh al-Mu‘attilah (pala penafi/penolak sifat-sifat Allah, Pen.) bahwasanya sembahan mereka bersama mereka di rumah-rumah mereka.”[19]

5.    Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari (260–324 H)

Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari dalam kitabnya al-Ibānah hlm. 405–423 telah memaparkan secara panjang lebar dalil-dalil tentang istiwa dan ketinggian Allah di atas langit-Nya serta membantah orang-orang yang menyimpang dalam masalah ini. Di antara ucapannya:
وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ ( الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى )
“Dan bahwasanya Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya, ‘Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) tinggi di atas ‘Arsy.’”[20]
Setelah beliau memaparkan dalil-dalil yang banyak sekali tentang keberadaan Allah di atas ‘Arsy, beliau berucap:
وَزَعَمَتِ الْمُعْتَزِلَةُ وَالْحَرُوْرِيَّةُ وَالْجَهْمِيَّةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ ، فَلَزِمَهُمْ أَنَّهُ فِيْ بَطْنِ مَرْيَمَ وَفِيْ الْحُشُوْشِ وَالأَخْلِيَةِ ، وَهَذَا خِلَافُ الدِّيْنِ ، تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ
“Dan kaum Mu‘tazilah, Haruriyyah, dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah, dan WC. Paham ini menyelisihi agama. Maha Tinggi Allah dari perkataan (rendahan) mereka.”[21]
Beliau bahkan menukil ijmak para ulama salaf yang bersepakat akan akidah ini. Beliau mengatakan:
وَأنَهَّ تَعَالىَ فَوْقَ سَمَوَاتِهِ عَلَى عَرْشِهِ دُوْنَ أَرْضِهِ
“Dan mereka (para ulama Ahlusunah) bersepakat … bahwasanya Allah berada di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, bukan di bumi-Nya.”[22]
Demikian ucapan-ucapan emas al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Lantas, adakah yang mau menggunakan akalnya?![23]

5.    Al-Khattabi (319–388 H)

Beliau mengatakan dalam kitabnya Syi‘ar al-Dīn[24]—setelah membawakan beberapa ayat:
فَدَلَّ مَا تَلَوْنَاهُ مِنْ هَذِهِ الآيِ عَلَى أَنَّ اللهَ سبحانه فِي السَّمَاءِ مُسْتَوٍ عَلَى الْعَرْشِ، وَلَوْ كَانَ بِكُلِّ مَكَانٍ لَمْ يَكُنْ لِهَذَا التَّخْصِيْصِ مَعْنًى وَلَا فِيْهِ فَائِدَة ، وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ الْمُسْلِمِيْنَ خَاصَّتِهِمْ وَعَامَّتِهِمْ بِأَنْ يَدْعُوَ رَبَّهُمْ عِنْدَ الْاِبْتِهَالِ وَالرَّغْبَةِ إِلَيْهِ وَيَرْفَعُوْا أَيْدِيَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ وَذَلِكَ لِاسْتِفَاضَةِ الْعِلْمِ عِنْدَهُمْ بِأَنَّ رَبَّهُمْ الْمَدْعُوَّ فِي السَّمَاءِ سُبْحَانَهُ.
“Ayat-ayat yang kami bacakan ini menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas ‘Arsy. Seandainya Allah berada di setiap tempat maka pengkhususan ini tidak ada faedah dan tidak ada maknanya. Dan kebiasaan kaum muslimin baik yang awam maupun yang terpelajar jika berdoa memohon kepada Allah maka mereka mengangkat tangan mereka ke langit. Hal itu karena telah masyhur bagi mereka bahwa Rabb yang mereka berdoa kepada-Nya berada di atas langit.”[25]

6.    Abu al-Qasim Hibatullah ibn al-Hasan al-Lalika’i Rahimahullahu Ta’ala (wafat 418 H)

Beliau mengatakan:
سِيَاقُ مَا رُوِيَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى ( الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى ) وَأَنََّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِي السَّمَاءِ وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ : ( إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ). وقال: ( أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ ). وَقَالَ تعالى: ( وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً ). فَدَلَّتْ هَذِهِ الآيَةُ أَنَّهُ تَعاَلىَ فِِي السَّمَاءِ، وَعِلْمُهُ مُحِيْطٌ بِكُلِّ مَكَانٍ مِنْ أَرْضِهِ وَسَمَائِهِ
“Penjelasan tentang apa-apa yang diriwayatkan dalam firman-Nya Ta‘āla: ‘Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) tinggi di atas ‘Arsy.’ (QS Ṭāha [20]: 5). Dan bahwasanya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di langit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.’ (QS Fāṭir [35]: 10). Dan firman-Nya Ta‘āla: ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu.’ (QS al-Mulk [67]: 16). Dan firman-Nya Ta‘āla: ‘Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga.’ (QS al-An‘ām [6]: 61). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwasanya Allah Ta‘āla berada di langit dan ilmu-Nya meliputi seluruh tempat di bumi-Nya dan langit-Nya.”[26]

7.    Al-Imam al-Sabuni (373–449 H)

Beliau berkata:
وَيَعْتَقِدُ أَصْحَابُ الْحَدِيْثِ وَيَشْهَدُوْنَ أَنَّ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَوْقَ سَبْعِ سَمَوَاتِهِ عَلَى عَرْشِهِ مُسْتَوٍ، كَمَا نَطَقَ بِهِ كِتَابُهُ فِيْ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي سُوْرَةِ يُوْنُسٍ: إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ)…
“Para ahli hadis berkeyakinan dan bersaksi bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas tujuh langit, di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Kitab-Nya dalam surat Yūnus: ‘Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.’ (QS Yūnus [10]: 3)…”[27]

8.    Abu al-Qasim Isma‘il al-Asbahani al-Syafi‘i (wafat 535 H)

Beliau berkata:
فَصْلٌ فِيْ بَيَانِ أَنَّ الْعَرْشَ فَوْقَ السَّمَوَاتِ، وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَوْقَ الْعَرْشِ
“Pasal: Penjelasan bahwa ‘Arsy di atas langit dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas ‘Arsy.”[28]

9.    Yahya al-‘Imrani al-Syafi‘i (wafat 558 H)

Beliau berkata:
عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيْثِ وَالسُّنَّةِ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ بِذَاتِهِ ، بَائِنٌ عَنْ خَلْقِهِ ، عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى فَوْقَ السَّمَوَاتِ ، غَيْرُ مُمَاسٍّ لَهُ ، وَعِلْمُهُ مُحِيْطٌ باِلأَشْيَاءِ كُلِّهَا
“Di sisi ahli hadis dan sunah, bahwasanya Allah Subḥānahu dengan Zat-Nya terpisah dari makhluk-Nya, beristiwa di atas ‘Arsy-Nya di atas langit, tanpa menyentuhnya, dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.”[29]

10.  Ibn al-Salah al-Syafi‘i (wafat 643 H)

Beliau telah mengomentari kasidah tentang sunah yang disandarkan kepada Abu al-Hasan al-Karkhi (wafat 532 H). Kasidah tersebut di antaranya:
عَقِيْدَةُ أَصْحَابِ الْحَدِيْثِ فَقَدْ سَمَتْ *** بِأَرْبَابِ دِيْنِ اللهِ أَسْنَى الْمَرَاتِبِ
عَقَائِدُهُمْ أَنَّ الإِلَهَ بِذَاتِهِ *** عَلَى عَرْشِهِ مَعَ عِلْمِهِ بِالْغَوَائِبِ
Akidah ashabul-hadis telah membawa para pemeluk agama ke derajat yang tinggi
Akidah mereka bahwasanya Allah dengan Zat-Nya di atas ‘Arsy-Nya, disertai ilmu-Nya tentang perkara-perkara gaib
Ibn al-Salah mengomentari kasidah tersebut dengan berkata:
هَذِهِ عَقِيْدَةُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَأَصْحَابِ الْحَدِيْثِ
“Ini adalah akidah Ahlusunah dan aṣḥābul-ḥadīṡ.”[30]

11.  Al-Imam al-Nawawi (631–676 H)

Al-Imam al-Nawawi termasuk ulama yang menegaskan ketinggian Allah di atas ‘Arsy-Nya, di antara buktinya[31]:
1)  Beliau mengatakan dalam kitabnya Juz’ fīhi Żikr I‘tiqād Salaf fi al-Hurus wa al-Aṣwāt[32]:
وَنُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا أَخْبَرَ فِي كِتَابِهِ وَلَا نَقُوْلُ هُوَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ بَلْ هُوَ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ
“Kami beriman bahwa Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam Kitab-Nya yang mulia. Kami tidak mengatakan bahwa Allah di setiap tempat, bahkan Allah di atas langit dan ilmu-Nya di setiap tempat.”
Lalu beliau membawakan QS al-Mulk [67]: 16, Fāṭir [35]: 10, hadis budak wanita, lalu beliau mengatakan, “Demikian juga dalil-dalil lainnya dalam Alquran dan hadis banyak sekali, kami mengimaninya dan tidak menolaknya sedikit pun.”
2)  Beliau menulis dan menyalin kitab al-Ibānah karya al-Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari.[33] Dan sebagaimana sudah kami sebutkan di muka bahwa al-Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari menegaskan dalam kitabnya tersebut tentang ketinggian Allah.
3)  Dalam kitab berjudul Ṭabaqāt Fuqahā’ al-Syāfi‘iyyah karya Ibn al-Salah yang diringkas dan ditertibkan oleh al-Imam al-Nawawi. Dalam biografi al-Khattabi, beliau sangat menghormati dan mengagungkan al-Khattabi. Salah satunya beliau mengatakan tentang al-Khattabi:
وَصَرَّحَ بِأَنَّهُ فِي السَّمَاءِ
“Dan beliau (al-Khattabi) menegaskan bahwa Allah di atas langit.”[34]
Perhatikanlah, al-Imam al-Nawawi menukil ucapan di atas dengan menyetujuinya. Seandainya beliau tidak menerima ucapan ini, niscaya beliau akan membuangnya atau mengkritiknya atau membantahnya!!
4)  Al-Imam al-Nawawi mengatakan dalam kitabnya Rauḍah al-Ṭālibīn 10/85—salah satu kitab fikih masyhur dalam mazhab al-Syafi‘i:
لَوْ قَالَ لَا إِلَهَ إلَّا اللهُ الْمَلِكُ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ أَوْ إِلَّا مَلِكُ السَّمَاءِ كَانَ مُؤْمِنًا قَالَ اللهُ تَعَالَى ( أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ )
“Seandainya dia (orang kafir) mengatakan ‘tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, Raja yang di atas langit atau kecuali Raja langit’ maka dia beriman. Allah berfirman: ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit.’ (QS al-Mulk [67]: 16).”
Inilah empat bukti bahwa al-Imam al-Nawawi termasuk ulama yang menegaskan ketinggian Allah di atas langit.

12.  Al-Imam al-Zahabi (673–748 H)

Beliau berkata:
مَقَالَةُ السَّلَفِ وَأَئِمَّةِ السُّنَّةِ بَلِ وَالصَّحَابَةِ وَاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ أَنَّ الله عزوجل فِي السَّمَاءِ وَأَنَّ اللهَ عَلَى الْعَرْشِ وَأَنَّ اللهَ فَوْقَ سَمَاوَاتِهِ وَأَنَّه يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا .وَحُجَّتُهُمْ عَلَى ذَلِكَ النُّصُوْصُ وَالآثَارُ.
 وَمَقَالَةُ الْجَهْمِيَّةِ أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتعَالَى فِيْ جَمِيْعِ الأَمْكِنَةِ تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ بَلْ هُوَ مَعَنَا أَيْنَمَا كُنَّا بِعِلْمِهِ
 وَمَقاَلُ مُتَأَخِّرِيْ الْمُتَكَلِّمِيْنَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ فِيْ السَّمَاءِ وَلَا عَلَى الْعَرْشِ وَلَا عَلَى السَّمَوَاتِ وَلَا فِيْ الأَرْضِ وَلَا دَاخِلَ الْعَالِمِ وَلَا خَارِجَ الْعَالَمِ وَلَا هُوَ بَائِنٌ عَنْ خَلْقِهِ وَلَا مُتَّصِلٍ بِهِمْ.
“Ucapan para salaf dan imam-imam Sunah bahkan para sahabat, Allah, Nabi, dan seluruh kaum mukmin bahwasanya Allah di atas langit dan di atas ‘Arsy, dan bahwa Allah turun ke langit dunia. Hujah-hujah mereka adalah hadis-hadis dan asar-asar yang banyak. Adapun perkataan Jahmiyyah (bahwa) ‘Allah Tabāraka wa Ta‘āla ada di seluruh tempat’, Maha Tinggi Allah dari perkataan (rendahan) mereka itu. Namun, Allah bersama kita di mana saja kita berada dengan ilmu-Nya. Dan perkataan ahli kalam kontemporer (bahwa) ‘Allah Ta‘āla tidak di langit, tidak di atas ‘Arsy, tidak di atas langit-(Nya), tidak di bumi, tidak berada di dalam alam, tidak di luar alam, tidak terpisah dari makhluk-Nya, dan tidak pula melekat dengannya’!”[35]
Demikianlah ketegasan para ulama mazhab al-Syafi‘i. Dan ini pun baru sebagian saja, belum seluruhnya.
أُوْلَئِكَ آبَائِيْ فَجِئْنِيْ بِمِثْلِهِمْ           إِذَا جَمَعَتْنَا يَا جَرِيْرُ الْمَجَامِعُ
Merekalah orang tuaku, maka datangkanlah padaku semisal mereka
Apabila perkumpulan mengumpulkan kita, wahai Jarir.[36]
Lantas, siapakah panutan orang-orang yang berpaham “Allah di mana-mana”?! Sesungguhnya mereka telah mengikuti kaum Jahmiyyah, Mu‘tazilah, dan ahli kalam. Semoga Allah memberikan hidayah kepada semuanya ke jalan yang benar. Āmīn.


Sumber: http://abiubaidah.com
[1]     Majmū‘ Fatāwa 1/121, Bayān Talbīs Jahmiyyah 1/155
[2]     Syarḥ ‘Aqīdah al-Ṭaḥawiyyah hlm. 386
[3]     Sebagaimana dipaparkan oleh al-Imam al-Zahabi dalam al-‘Uluww li al-‘Aliyy al-‘Aẓīm dan Ibn al-Qayyim dalam Ijtimā‘ Juyūsy al-Islāmiyyah. Lihat pula tulisan bagus “101 Perkataan Ulama Salaf Tentang Allah di atas Arsy” di <http://gizanherbal.wordpress.com/2011/06/12/101-perkataan-ulama-salaf-tentang-allah-di-atas-arsy-seri-allah-di-atas-arsy/>.
[4]     Al-Risālah al-Tabukiyyah hlm. 27 karya Ibn al-Qayyim
        Faedah: Syair ini termasuk di antara syair-syair yang tidak diketahui siapa pengucapnya.
[5]     Penulis mengambil manfaat sebagian nukilan ucapan ulama salaf ini dari artikel “Aqidah Salafi Shalih fil Uluw wal Istiwa” dari <http://as-salaf.com> dan <http://www.firanda.com>.
[6]     Al-Asmā’ wa al-Ṣifāt 1/517
[7]     Fatḥ al-Bāri 13/407
[8]     Seperti dalam kitabnya al-Umm 5/280 dan al-Risālah: 7–8.
[9]     Dalam sanad al-Imam Malik tertulis “‘Umar ibn Hakam” sebagai ganti dari “Mu‘awiyah ibn Hakam”. Para ulama menilai bahwa hal ini merupakan kesalahan al-Imam Malik. Al-Imam al-Syafi‘i berkata—setelah meriwayatkan hadis ini dari al-Imam Malik—, “Yang benar adalah Mu‘awiyah ibn Hakam sebagaimana diriwayatkan selain Malik, dan saya menduga bahwa Malik tidak hafal namanya.” (al-Risālah hlm. 7–8)
[10]   Hadis ini sahih. Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Juz’ al-Qirā’ah hlm. 70, Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya: 537, Ahmad 5/448, Malik dalam al-Muwaṭṭa’ 2/772, al-Syafi‘i dalam al-Risālah no. 242, dll. Lihat takhrij secara luas tentang hadis ini, komentar ulama ahli hadis tentangnya, dan pembelaan ulama terhadapnya dalam buku kami Membela Hadits Nabi. Perlu saya tambahkan di sini, bahwa di antara ahli bidah yang menghujat hadis ini adalah Muh. Idrus Ramli yang tanpa malu mengatakan bahwa hadis ini adalah mudtarib (simpang siur), lemah, dan tidak bisa dijadikan hujah sebagaimana dalam <http://www.idrusramli.com/2013>. Sungguh—jika dia menyadarinya—ini penghujatan terhadap hadis dan para imam ahli hadis!!
[11]   Al-Imam ‘Abdul-Gani al-Maqdisi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapakah yang lebih jahil dan rusak akalnya serta tersesat jalannya melebihi seorang yang mengatakan bahwa tidak boleh bertanya ‘di mana Allah’ setelah ketegasan Rasulullah n\ yang bertanya ‘di mana Allah’?!” (al-Iqtiṣād fi al-I‘tiqād hlm. 89 dan Tadzkirah al-Mu‘tasi hlm. 89–90 syarah Dr. ‘Abdurrazzaq al-Badr)
[12]   Al-‘Uluww li al-‘Aliyy al-‘Aẓīm (hlm. 81—Mukhtaṣar al-Albani—)
[13]   Adab al-Syāfi‘i wa Manāqibuhu hlm. 93 karya Ibn Abi Hatim, I‘tiqād al-Imām al-Syāfi‘i no. 4 karya al-Hakari. Dan dinukil oleh Ibn Qudamah dalam Iṡbāt Ṣifat al-‘Uluww hlm. 123, Ibn al-Qayyim dalam Ijtimā‘ Juyūsy al-Islāmiyyah hlm. 164, al-Zahabi sebagaimana dalam Mukhtaṣar al-‘Uluww hlm. 176, dan al-Suyuti dalam al-Amr bi al-Ittibā‘ hlm. 313.
[14]   ‘Aqīdah al-Imām Nāṣir al-Ḥadīṡ wa al-Sunnah Muḥammad ibn Idrīs al-Syāfi‘i hlm. 89–91
[15]   Semoga Allah merahmati al-Imam Abu Muẓaffar al-Sam‘ani ketika mengatakan, “Tidak pantas bagi seorang untuk membela mazhab al-Syafi‘i dalam masalah fikih tetapi tidak mengikutinya dalam masalah usul (pokok-pokok akidah).” (al-Intiṣar li Aṣḥāb al-Ḥadīṡ hlm. 9)
[16]   Syarḥ al-Sunnah li al-Muzanni hlm. 79 no. 1 (tahqiq: Jamal ‘Azzun)
[17]   Ibid. hlm. 82
[18]   Naqḍ Abi Sa‘īd ‘ala al-Mirisi al-Jahmi al-‘Anīd 1/228
[19]   Kitāb al-Tauḥīd 1/273
[20]   Al-Ibānah fi Uṣūl Diyānah hlm. 17
[21]   Ibid. hlm. 26
[22]   Risālah ila Ahl al-Ṡagr karya Abu al-Hasan al-Asy‘ari hlm. 231–234 (tahqiq: ‘Abdullah ibn Syakir al-Junaidi)
[23]   Semoga Allah merahmati al-Hafiz Abu al-‘Abbas al-Tarqi tatkala berkata, “Saya melihat kaum Jahmiyyah yang meniadakan ‘Arsy dan menakwilkan istiwa, mereka menisbahkan diri kepada Abu al-Hasan al-Asy‘ari. Ini bukanlah awal kebatilan dan kedustaan yang mereka lakukan.” (Risālah fi Żabb ‘an Abil-Ḥasan al-Asy‘ari karya Ibn Dirbas hlm. 111–112)
[24]   Ibn Salah dalam Ṭabaqāt Fuqahā’ al-Syāfi‘iyyah ketika menyebutkan biografi al-Khattabi menyebutkan bahwa salah satu karya tulisnya adalah kitab Syi‘ar Dīn. Beliau menempuh penjelasan berdasarkan dalil tanpa mengikuti cara ahli kalam, sampai beliau mengatakan, “Dan beliau menegaskan dalam kitab tersebut bahwa Allah di atas langit.” Demikianlah al-Imam Ibn Salah menukil dan tidak mengkritiknya sebagai tanda persetujuannya.
[25]   Dinukil Ibn al-Qayyim dalam Taḥżīb al-Sunan 13/35–36 dan sebagiannya dinukil oleh al-Qurtubi dalam al-Asna fi Syarḥ Asmā’illāhi al-Husna hlm. 170.
[26]   Syarḥ Uṣūl al-I‘tiqād karya al-Lalika’i hlm. 387–388
[27]   ‘Aqīdah al-Salaf Aṣḥāb al- Ḥadīṡ hlm. 176
[28]   Al-Ḥujjah bi Bayān al-Maḥajjah 2/83
[29]   Al-Intiṣār fi al-Radd ‘ala al-Qadariyyah al-Asyrār 2/607
[30]   Kitāb al-‘Arsy karya al-Zahabi 2/342
[31]   Dinukil dari al-Dalā’il al-Wafiyyah fi Taḥqīq ‘Aqīdah al-Imām al-Nawawi al-Salafiyyah Am Khalafiyyah hlm. 42–47 karya Syaikhuna Masyhur ibn Hasan Salman.
[32]   Demi inṣāf dan keadilan, kami katakan bahwa kitab ini masih diragukan oleh sebagian ulama dan peneliti akan keabsahannya sebagai buah karya al-Imam al-Nawawi. (Yusuf Abu Ubaidah)
[33]   Lihat Majmū‘ Fatāwa Ibn Taimiyyah 3/224, dan al-‘Uluww 2/1248 karya al-Zahabi.
[34]   Taḥżīb Ṭabaqāt Fuqahā’ al-Syāfi‘iyyah 1/470
[35]   Al-‘Uluww hlm. 143
[36]   Diwān Farazdaq 1/418, dan al-Īḍāḥ fi ‘Ulūm Balagah karya al-Khatib al-Qazwini 1/46


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Mutiara Salaf

"Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang menjadikan baik generasi awalnya"

-Imam Malik-

Info Kajian

Pada Hari Ahad

Jam 8.30 pagi.
pekan ke-2 dan ke-4 setiap bulan
Kajian Umum Kitab : "Shahih Fiqih Sunnah"
Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim
di Masjid Ma'had IMAM SYAFI'I BLORA
Bersama Al Ust. Abu Mundzir Al-Ghifary hafidzahullah
Info:
Bp. Lasmito (085325307818)
Bp. Jauhari (085384960382)

Pada Hari Ahad

Jam 9.00 pagi.
pekan ke-1 setiap bulan
Kajian Umum Kitab : "al-Firqotun Najiyah"
karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
di Masjid Ma'had IMAM SYAFI'I BLORA
Bersama Al Ust. Misbah hafidzahullah
Info:
Bp. Lasmito (085325307818)
Bp. Ahmad Sholihin (081391834830)

Pada Hari Sabtu

Jam 18.15 (Ba'da Maghrib)
pekan ke-2 dan ke-4 setiap bulan
Kajian Umum Kitab : "Tafsir Juz 'Amma"
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
di Masjid Ma'had IMAM SYAFI'I BLORA
Bersama Al Ust. Zakariya Syaiful Fuad
Info:
Bp. Lasmito (085325307818)
Bp. Ahmad Sholihin (081391834830)

Pada Hari Jum'at, Sabtu, Ahad

Jam 18.15 (Ba'da Maghrib)
Kajian Umum Kitab : "Pelajaran Cara Cepat Menguasai Bahasa Arab"
“Kunci Sukses Belajar Nahwu & Shorof Untuk Pemula”yang disusun oleh Al Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali A.M.

di Masjid Ma'had IMAM SYAFI'I BLORA
Bersama Al Ust. Abu Kholid Iqbal Al Farisi
Info:
Bp. Lasmito (085325307818)
Bp. Zakariya (081226810066)

Video Tausiyah

Radio Sunnah


Banyak Dibaca

Video: Aku Akan Berubah

Jadwal Sholat

Pengunjung

Flag Counter

KALENDER

Diberdayakan oleh Blogger.