Tampilkan postingan dengan label thoharoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thoharoh. Tampilkan semua postingan
KITAB THAHARAH (PERIHAL BERSUCI)
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi


C. Perkara-Perkara Fithrah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: اْلاِسْتِحْدَادُ، وَالْخِتَانُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَنَتْفُ اْلإِبْطِ، وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَارِ.

"Lima (perilaku) fithrah: mencukur bulu kemaluan, khitan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku."[1]

Dari Zakaria bin Abi Za-idah, dari Mush'ab bin Syaibah, dari Thalq bin Habib, dari Ibnu az-Zubair, dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ، وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ، وَقَصُّ اْلأَظْفَارِ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَنَتْفُ اْلإِبْطِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ -يَعْنِي اْلاِسْتِنْجَاءُ- قَالَ زَكَرِيَّا، قَالَ مُصْعَبُ وَنَسِيْتُ الْعَاشِرَ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ الْمَضْمَضَةُ.

"Sepuluh (perilaku) fithrah: mencukur kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung (istinsyaq), memotong kuku, membasuh sela-sela jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan bersuci dengan air -cebok- Zakaria mengatakan bahwa Mush'ab berkata, "Aku lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur." [2]

1. Khitan
Khitan wajib bagi pria dan wanita. Karena ia merupakan ciri
ke-Islaman. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada seorang laki-laki yang baru memeluk Islam:

أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ.

"Campakkanlah rambut kekufuran [3] darimu dan berkhitanlah." [4]

Perbuatan ini termasuk ajaran Nabi Ibrahim Alaihissallam.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اِخْتَتَنَ إِبْرَاهِيْمُ خَلِيْلُ الرَّحْمنِ بَعْدَ مَا أَتَتْ عَلَيْهِ ثَمَانُوْنَ سَنَةً.

"Ibrahim, Khalilurrahman (kekasih Allah) berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun." [5]

Allah berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam :

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif (lurus).’ Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” [An-Nahl: 123]
.
Disukai bila khitan dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran.

Berdasarkan hadits Jabir Radhiyallahu anhu:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَخَتَنَهُمَا لِسَبْعَةِ أَياَّمٍ.

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengaqikahi serta mengkhitan Hasan dan Husain pada hari ketujuh." [6]

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata:

سَبْعَةٌ مِنَ السُّنَّةِ فِي الصَّبِيِّ يَوْمَ السَّابِعِ: يُسَمَّى وَيُخْتَنُ.

"Tujuh dari perkara-perkara sunnah untuk bayi pada hari ketujuh adalah memberi nama dan mengkhitan." [7]

Kedua hadits dia atas meskipun terdapat kelemahan pada keduanya, namun masing-masing saling menguatkan. Karena sumber keduanya berbeda dan tidak ada (perawi) yang tertuduh pada keduanya.[8]

2. Memanjangkan jenggot
Memanjangkan jenggot hukumnya wajib dan mencukurnya hukumnya haram. Karena (termasuk) merubah ciptaan Allah dan termasuk perbuatan syaitan, di mana Allah mengabarkan tentang perkataan syaitan:

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِّن دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا

“Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” [An-Nisaa': 119]

Mencukurnya (termasuk) menyerupai wanita.

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ.

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita."[9]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan memanjangkan jenggot. Sedangkan perintah menunjukkan wajib, sebagaimana diketahui.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَأَرْخُوا اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوْسَ.

"Pangkaslah kumis dan panjangkan jenggot. Selisihilah orang-orang majusi."[10]

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِيْنَ، وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ.

"Selisihilah orang-orang musyrik. Panjangkan jenggot dan potonglah kumis."[11]

3. Siwak
Bersiwak disukai pada semua keadaan. Lebih disukai pada saat-saat berikut:
a. Ketika wudhu
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ الْوُضُوْءِ.

"Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka bersiwak setiap wudhu." [12]

b. Ketika shalat
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ.

"Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka bersiwak setiap akan shalat."[13]

c. Ketika membaca al-Qur-an
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintah kami bersiwak dan bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي أَتَاهُ مَلَكٌ فَقَامَ خَلْفَهُ يَسْتَمِعُ الْقُرْآنَ وَيَدْنُوْ، فَلاَ يَزَالُ يَسْتَمِعُ وَيَدْنُوْ حَتَّى يَضَعَ فَاهُ عَلَى فِيْهِ، فَلاَ يَقْرَأُ آيَةً إِلاَّ كَانَتْ فِي جَوْفِ الْمَلَكِ.

"Sesungguhnya seorang hamba ketika hendak melakukan shalat, datanglah Malaikat padanya. Lalu ia berdiri di belakangnya untuk mendengarkan al-Qur-an. Ia mendekat dan tetap mendengarkan serta mendekat hingga ia letakkan mulutnya ke mulut hamba tadi. Tidaklah ia membaca ayat melainkan ayat tersebut sampai ke perut Malaikat itu." [14]

d. Ketika memasuki rumah
Dari al-Miqdam bin Syuraih dari ayahnya. Dia berkata, aku bertanya kepada ‘Aisyah:

بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: بِالسِّوَاكِ.

"Dengan apa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengawali masuk rumah beliau?" Dia berkata, "Dengan bersiwak." [15]

e. Ketika shalat malam
Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, dia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ لِيَتَهَجَّدَ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ.

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila hendak shalat, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak." [16]

Dimakruhkan Mencabut Uban
Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَنْتَفُوا الشَّيْبَ، مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيْبُ شَيْبَةً فِي اْلإِسْلاَمِ إِلاَّ كَانَتْ لَهُ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

"Janganlah kalian mencabut uban. Karena tidaklah seorang muslim beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan ia akan menjadi cahaya baginya di hari Kiamat." [17]

Dibolehkan menyemir uban dengan pacar, inai, atau sejenisnya dan diharamkan menggunakan warna hitam

Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحْسَنَ مَا غَيَّرْتُمْ بِهِ الشَّيْبَ الْحِنَّاءُ وَالْكَتْمُ.

"Bahan terbaik yang kalian gunakan untuk menyemir uban adalah pacar dan inai." [18]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبَغُوْنَ فَخَالِفُوْهُمْ.

"Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka." [19]

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah didatangkan. Rambut dan jenggotnya telah memutih. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda:

غَيِّرُوْا هذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوْا السَّوَادَ.

"Rubahlah (rambut) ini dengan sesuatu, tapi hindarilah warna hitam." [20]

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَكُوْنُ قَوْمٌ يَخْضَبُوْنَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَّامِ لاَ يُرِيْحُوْنَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ.

"Pada akhir masa kelak akan ada kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka tidak mencium aroma Surga."[21]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]


Sember: http://almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/334 no. 5889)], Shahiih Muslim (I/221 no. 257), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (XI/ 252 no. 4180), Sunan at-Tirmidzi (IV/184 no. 2905), Sunan an-Nasa-i (I/14), dan Sunan Ibni Majah (I/107 no. 292).
[2]. Hasan: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 182)], Shahiih Muslim (I/223 no. 261), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (I/79 no. 52), Sunan at-Tirmidzi (IV/184/ no. 2906), Sunan an-Nasa-i (VIII/126), dan Sunan Ibni Majah (I/108 no. 293).
[3]. Yang dimaksud rambut kekufuran adalah model rambut yang menjadi ciri khas orang-orang kafir. Lihat 'Aunul Ma'buud dan Tuhfatul Ahwadzi.-Pent.
[4]. Hasan: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 1251)], Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (II/20 no. 352), dan al-Baihaqi (I/172).
[5]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/88 no. 6298)], dan Shahiih Muslim (IV/1839 no. 370).
[6]. Ath-Thabrani dalam ash-Shaghiir (II/122 no. 891). Lihat [Tamaamul Minnah hal. 68].
[7]. Ath-Thabrani dalam al-Ausath (I/334 no. 562). Lihat [Tamaamul Minnah hal. 68].
[8]. Tamaamul Minnah hal. 68.
[9]. Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 5100)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/332 no. 5885), dan Sunan at-Tirmidzi (VI/194 no. 2935).
[10]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim. (no. 181)], dan Shahiih Muslim (I/222 no. 260).
[11]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/349 no. 5892)], dan Shahiih Muslim (I/222 no. 259 (54)).
[12]. Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 5316)], Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/294 no. 171).
[13]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/220 no. 252)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/374 no. 887), Sunan at-Tirmidzi (I/18 no. 22), Sunan an-Nasa-i (I/12), hanya saja dalam lafazh al-Bukhari tertulis “مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ”.
[14]. Shahiih lighairihi: [Ash-Shahiihah (no. 1213)], al-Baihaqi (I/38).
[15]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 235)], Shahiih Muslim (I/220 no. 253), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (I/86 no. 58), Sunan Ibni Majah (I/106/ no. 290), dan Sunan an-Nasa-i (I/13).
[16]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/220 no. 255)], lafazh ini milik al-Bukhari. Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/356 no. 245), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (I/83 no. 54), dan Sunan an-Nasa-i (I/8). Lafazh mereka bertiga: "إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ (jika bangun malam hari)."
[17]. Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 7463)], Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (XI/256 no. 4184), dan Sunan an-Nasa-i (VIII/136).
[18]. Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 1546)], Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (XI/259 no. 4187), Sunan at-Tirmidzi (III/145 no. 1806), Sunan Ibni Majah (II/1196 no. 3622), dengan lafazh miliknya. Sunan an-Nasa-i (VIII/ 139).
[19]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/354 no. 5899)], Shahiih Muslim (III/1663 no. 2103), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (XI/257/ no. 4185), dan Sunan an-Nasa-i (VIII/137).
[20]. Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 4170), Shahiih Muslim (III/1663 no. 2102 (69)), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (XI/258 no. 4186), Sunan an-Nasa-i (VIII/138), Sunan Ibni Majah (II/1197 no. 3624) dengan (lafazh) semisalnya.
[21]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 8153)], Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma’buud) (XI/266 no. 4194), Sunan an-Nasa-i (VIII/138).


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
KITAB THAHARAH (PERIHAL BERSUCI)
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi


Thaharah secara bahasa berarti suci dan bersih dari hadats. Sedangkan menurut istilah bermakna menghilangkan hadats dan najis. [1]

Bab Air
Semua air yang turun dari langit dan keluar dari bumi adalah suci dan menyucikan.

Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Dia-lah Yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira yang dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” [Al-Furqaan: 48]

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang laut:

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ.

“Air laut itu suci dan menyucikan serta halal bangkainya.” [2]

Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang sumur:

إِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ.

“Sesungguhnya air itu suci dan menyucikan, tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”

Air tetap dalam kesuciannya sekalipun bercampur dengan sesuatu yang suci selama tidak keluar dari keasliannya (kemutlakn)nya. (*)

Dasarnya adalah sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para wanita yang memandikan jenazah puteri beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

اِغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي اْلآخِرَةِ كَافُوْرًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُوْرٍ.

“Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air dan bidara jika menurut kalian perlu. Dan jadikanlah basuhan terakhir dengan kapur barus atau sedikit dengannya.” [3]

Tidaklah air itu dihukumi najis meskipun terdapat najis padanya kecuali jika ia berubah karenanya.

Dasarnya adalah hadits Abu Sa'id. Dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami wudhu di sumur Budha‘ah?” Yaitu sumur yang di sana dibuang darah haidh, daging anjing, dan kotoran.

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمَاءُ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ.

“Air itu suci dan menyucikan, tidak dinajiskan oleh suatu apa pun.” [4]

Bab an-Najaasaat
An-Najaasaat adalah bentuk plural dari najasah, yaitu semua yang dianggap menjijikkan oleh orang yang bertabiat normal. Mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian mereka jika terkena olehnya, seperti kotoran dan air seni.[5]

Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci. Barangsiapa menyatakan najisnya suatu materi, maka ia harus mendatangkan dalil. Jika sesuai, maka ia benar. Namun bila tidak bisa, atau ia membawakan sesuatu yang tidak bisa dijadikan hujjah, maka kita wajib mengikuti hukum asal dan al-bara-ah al-ashliyyah (yaitu se-orang hamba tidak dikenai kewajiban hukum hingga datangnya dalil.-ed) [6]. Karena hukum najis adalah hukum pembebanan yang terkait dengan (seharusnya diketahui) semua orang. Maka, tidak boleh mengatakan tentang najisnya sesuatu kecuali dengan dalil. [7]

A. Hal-Hal yang Termasuk Najis
Hal-hal yang terdapat dalil atas kenajisannya adalah:
1. Air kencing dan
2. Kotoran manusia

Adapun dalil najisnya kotoran manusia adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ اْلأَذَى فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُوْرٌ.

“Jika salah seorang di antara kalian menginjak al-adzaa (najis) dengan sandalnya, maka tanah adalah penyucinya.”[8]

Al-Adzaa adalah segala sesuatu yang engkau merasa tersakiti olehnya, seperti najis, kotoran, batu, duri, dan sebagainya[9]. Dan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah najis, sebagaimana yang tampak jelas.

Sedangkan dalil (najisnya) air kencing adalah hadits Anas Radhiyallahu anhu : “Seorang Arab Badui kencing di masjid. Lalu segolongan orang menghampirinya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Biarkanlah ia, jangan kalian hentikan kencingnya.’” Anas melanjutkan, “Tatkala ia sudah menyelesaikan kencingnya, beliau memerintahkan agar dibawakan setimba air lalu diguyurkan di atasnya." [10]

3. Madzi, dan
4. Wadi
Madzi, yaitu cairan putih (bening), encer, dan lengket yang keluar ketika naiknya syahwat. Dia tidak keluar dengan syahwat, tidak menyembur, dan tidak pula diikuti lemas. Terkadang keluar tanpa terasa. Dialami pria maupun wanita.[11]

Madzi adalah najis. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh membasuh kemaluan darinya.

‘Ali Radhiyallahu anhu berkata, “Aku adalah laki-laki yang sering keluar madzi. Aku malu menanyakannya pada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam karena kedudukan puteri beliau. Lalu kusuruh al-Miqdad bin al-Aswad untuk menanyakannya.

Beliau lantas bersabda:

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ.

‘Dia harus membasuh kemaluannya dan berwudhu.’” [12]

Sedangkan wadi adalah cairan putih (bening) dan kental yang keluar setelah kencing.[13]

Wadi adalah najis.

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Mani, wadi, dan madzi. Adapun mani, maka wajib mandi. Sedangkan untuk wadi dan madzi, beliau (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda:

اِغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيْرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ.

‘Basuhlah dzakar atau kemaluanmu dan wudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk shalat.’” [14]

5. Kotoran (hewan) yang tidak (halal) dimakan dagingnya
Dari ‘Abdullah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak buang hajat, beliau berkata, ‘Bawakan aku tiga batu.’ Aku menemukan dua batu dan sebuah kotoran keledai. Lalu beliau mengambil kedua batu itu dan membuang kotoran tadi lalu berkata:

هِيَ رِجْسٌ.

“(Kotoran) itu najis.” [15]

6. Darah haidh
Dari Asma’ binti Abi Bakar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Baju seorang di antara kami terkena darah haidh, apa yang harus ia lakukan?’

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّي فِيْهِ.

“Keriklah, kucek dengan air, lalu guyurlah. Kemudian shalatlah dengan (baju) itu.” [16]

7. Air liur anjing
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

طَهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ.

“(Cara) menyucikan bejana salah seorang di antara kalian jika dijilat anjing adalah membasuhnya tujuh kali. Yang pertama dengan tanah.” [17]

8. Bangkai
Yaitu segala sesuatu yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Dasarnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

إِذَا دُبِغَ اْلإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ.

“Jika (al-ihaaab) telah disamak, maka sucilah ia.” [18]

Al-ihaaab adalah kulit hewan yang telah mati (bangkai). Dikecualikan dari hal ini:
Pertama : Bangkai ikan dan jangkrik.
Dasarnya adalah hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ: أَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوْتُ وَالْجَرَادُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ فْالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ.

“Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah. Kedua bangkai itu adalah ikan dan jangkrik. Sedangkan kedua darah tersebut adalah hati dan limpa.” [19]

Kedua : Bangkai hewan yang tidak berdarah. Seperti lalat, semut, lebah, dan sebagainya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي اْلآخَرِ شِفَاءً.

“Jika seekor lalat jatuh ke dalam bejana salah seorang di antara kalian, maka benamkan semua lalu buanglah ia. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, sedangkan pada sisi lainnya terdapat penawar.” [20]

Ketiga : Tulang bangkai, tanduk, kuku, rambut dan bulunya.
Semuanya suci, merujuk pada keasliannya, yaitu suci. Dasarnya hadits yang diriwayatkan al-Bukhari secara mu’allaq [21]. Dia mengatakan bahwa az-Zuhri berkata tentang tulang bangkai -seperti gajah dan sebagainya-, “Aku mendapati beberapa kalangan ulama terdahulu bersisir dan berminyak dengannya. Mereka tidak mempermasalahkannya.”

Hammad berkata, “Tidak ada masalah dengan bulu bangkai.”

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]



Sumber: http://almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Al-Majmuu' Syarhul Muhadzdzab (I/79).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 309)], Muwaththa' al-Imam Malik (XXVI/ 40), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (I/152 no. 83), Sunan at-Tirmidzi (I/47 no. 69), Sunan Ibni Majah (I/136 no. 386), Sunan an-Nasa-i (I/176).
(*). Maksudnya, air tersebut masih dinamai air saja. Berbeda dengan air yang sudah dalam bentuk lain, minuman seeperti kopi, teh, susu dan lainnya. Di mana air tersebut bercampur dengan zat-zat yang suci namun telah keluar dari kemutlakannya. Air semacam ini suci namun tidak mensucikan (tidak boleh dipakai untuk bersuci). Ed.
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/125 no. 1253)], dan Shahiih Muslim (II/646 no. 939).
[4]. Shahiih: [Irwaa'ul Ghaliil (no. 14)], Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (I/127, 126 no. 66, 67), Sunan at-Tirmidzi (I/45 no. 66) dan Sunan an-Nasa-i (I/174). Al-Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi (I/204), "Ath-Thayyibi ber-kata, ‘Makna perkataannya, ‘Yang dibuang di situ’ adalah, sumur itu dulu dari aliran beberapa lembah yang kemungkinan didatangi penghuni padang pasir dan membawa kotoran yang ada di sekitar rumah mereka tadi. Banjir lantas membawa dan melemparkannya ke dalam sumur. Penutur menceritakan dengan kata-kata yang mengesankan seolah yang membuang adalah manusia, karena minimnya agama mereka. Hal ini tidak dibenarkan oleh seorang muslim pun, maka bagaimana mungkin dilakukan oleh umat dari kurun terbaik dan paling utama. Saya katakan (al-Mubarakfuri), "Beberapa orang dari kalangan ahlul ilmi juga berpendapat demikian. Pendapat inilah yang tampak kebenarannya."
[5]. Ar-Raudhah an-Nadiyyah (I/12).
[6]. As-Sailul Jarraar (I/31).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 834)], ar-Raudhah an-Nadiyyah (I/15).
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 834)], dan Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (II/47 no. 381).
[9]. 'Aunul Ma'buud (II/44).
[10]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/246 no. 284)], ini adalah lafazhnya. Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/449 no. 6025), secara ringkas.
[11]. Syarh Muslim, karya an-Nawawi (III/213).
[12]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/247 no. 303)], ini adalah lafazhnya. Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/230 no. 132), Mukhtashar.
[13]. Fiqhus Sunnah (I/24).
[14]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 190)], dan al-Baihaqi (I/115).
[15]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2530], dan Shahiih Ibni Khuzaimah (I/39 no. 70). Disebutkan dalam riwayat lain tanpa lafazh (keledai). Hal ini diriwayatkan dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/256 no. 156), Sunan an-Nasa-i (I/39), Sunan at-Tirmidzi (I/13/17), Sunan Ibni Majah (I/114 no. 314).
[16]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/240 no. 291)], ini adalah lafazhnya. Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/410 no. 307).
[17]. Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 3933)], dan Shahiih Muslim (I/234 no. 276 (91)).
[18]. Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 511)], Shahiih Muslim (I/277 no. 366), dan Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (XI/181 no. 4105).
[19]. Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 210)], Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani I/255 no. 96), dan al-Baihaqi (I/254).
[20]. Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 837)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/250 no. 57, 82), dan Sunan Ibni Majah (II/1159 no. 3505).
[21]. (I/342)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Mutiara Salaf

"Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang menjadikan baik generasi awalnya"

-Imam Malik-

Info Kajian

Pada Hari Ahad

Jam 8.30 pagi.
pekan ke-2 dan ke-4 setiap bulan
Kajian Umum Kitab : "Shahih Fiqih Sunnah"
Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim
di Masjid Ma'had IMAM SYAFI'I BLORA
Bersama Al Ust. Abu Mundzir Al-Ghifary hafidzahullah
Info:
Bp. Lasmito (085325307818)
Bp. Jauhari (085384960382)

Pada Hari Ahad

Jam 9.00 pagi.
pekan ke-1 setiap bulan
Kajian Umum Kitab : "al-Firqotun Najiyah"
karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
di Masjid Ma'had IMAM SYAFI'I BLORA
Bersama Al Ust. Misbah hafidzahullah
Info:
Bp. Lasmito (085325307818)
Bp. Ahmad Sholihin (081391834830)

Pada Hari Sabtu

Jam 18.15 (Ba'da Maghrib)
pekan ke-2 dan ke-4 setiap bulan
Kajian Umum Kitab : "Tafsir Juz 'Amma"
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
di Masjid Ma'had IMAM SYAFI'I BLORA
Bersama Al Ust. Zakariya Syaiful Fuad
Info:
Bp. Lasmito (085325307818)
Bp. Ahmad Sholihin (081391834830)

Pada Hari Jum'at, Sabtu, Ahad

Jam 18.15 (Ba'da Maghrib)
Kajian Umum Kitab : "Pelajaran Cara Cepat Menguasai Bahasa Arab"
“Kunci Sukses Belajar Nahwu & Shorof Untuk Pemula”yang disusun oleh Al Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali A.M.

di Masjid Ma'had IMAM SYAFI'I BLORA
Bersama Al Ust. Abu Kholid Iqbal Al Farisi
Info:
Bp. Lasmito (085325307818)
Bp. Zakariya (081226810066)

Video Tausiyah

Radio Sunnah


Banyak Dibaca

Video: Aku Akan Berubah

Jadwal Sholat

Pengunjung

Flag Counter

KALENDER

Diberdayakan oleh Blogger.